Thursday, September 26, 2019

Cara Menghindari Bullying Pada Siswa Difabel

Apakah ada siswa yang mengalami diskriminasi karena mereka memiliki kekurangan? Peraturan mengenai pendidikan inklusif mensyaratkan bahwa setiap lembaga pendidikan tidak mendiskriminasi siswa dengan kebutuhan khusus atau cacat. Namun pada kenyataannya, tidak semua lembaga pendidikan, terutama pendidikan dasar dan menengah, siap menerima siswa berkebutuhan khusus.
Ini terkadang membuat sekolah akhirnya membuat aturan internal yang mengarah pada tindakan diskriminasi. Lalu, apa yang harus dilakukan guru jika siswa mengalami diskriminasi di sekolah?

1. Lakukan kegiatan persuasi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai
Sekolah terkadang tidak menyadari jika peraturan internal yang mereka buat ternyata menghasilkan diskriminasi terhadap siswa cacat. Untuk alasan ini, perlu meyakinkan sekolah yang melibatkan lembaga dengan bantuan disabilitas ketika diskriminasi memang terjadi. Guru harus peka terhadap apa yang terjadi pada siswa Anda sendiri. Jangan takut untuk berbicara jika ada tindakan diskriminasi. Buka jalur komunikasi melalui lembaga bantuan disabilitas dan biarkan mereka memberikan solusi yang tepat ke sekolah.

2. Beri siswa pengetahuan tentang difabel
Orang cacat akan sangat rentan mengalami kekerasan, seperti intimidasi, baik secara verbal maupun nonverbal. Banyak siswa lain mengejek atau bahkan melakukan perbuatan fisik kepada anak-anak cacat yang membuat orang tua mereka tidak mengirim anak-anak mereka ke sekolah di sekolah umum. Untuk alasan ini, guru harus memberikan pengetahuan tentang difabel kepada siswa sehingga mereka dapat saling menghormati dan tidak memandang mata anak-anak penyandang cacat.

3. Berikan pengertian kepada orang tua
Hak anak-anak penyandang cacat untuk mendapatkan pendidikan yang sama sebenarnya telah dikonfirmasi dalam Undang-Undang Perlindungan Anak no. 23 tahun 2002. Namun kenyataannya, masih banyak sekolah yang tidak mau menerima anak-anak penyandang cacat. Bahkan, banyak orang tua menarik anak-anak mereka dari sekolah ketika sekolah mereka menjadi sekolah inklusif, karena pandangan negatif tentang anak-anak penyandang cacat. Ini terjadi karena banyak orang tua tidak tahu tentang keterlibatan sekolah, terutama sekolah khusus jarang di pedesaan.

4. Libatkan peran Guru (GPK) dalam proses belajar mengajar
Guru di sekolah inklusif harus diberi informasi tentang anak-anak penyandang cacat, karena tentu saja mereka lebih unik daripada anak-anak pada umumnya. Seringkali, tidak ada komunikasi yang baik antara orang tua dan guru, sehingga banyak anak-anak cacat tidak mendapatkan cara belajar yang benar karena kebiasaan yang tidak diketahui oleh guru. Jadi, penting untuk melibatkan Guru Fasilitator Khusus di sekolah inklusif sampai guru tahu bagaimana cara menangani anak-anak penyandang cacat dengan benar.

5. Buat solusi jangka pendek untuk siswa penyandang cacat
Selain menanamkan pemahaman tentang disabilitas dan berkomunikasi dengan lembaga lain sehingga siswa difabel bisa mendapatkan pelajaran seperti siswa lain, Anda juga dapat menerapkan solusi jangka pendek yang dapat diterapkan secara langsung. Misalnya, dengan menggunakan alat aksesibilitas untuk siswa berkebutuhan khusus. Misalnya, menggunakan komputer dengan pembaca layar untuk siswa tunanetra. Dengan begitu, siswa tunanetra juga dapat membaca dan menulis seperti siswa lainnya. Sistem pendidikan yang memadai untuk para penyandang cacat dan dukungan dari lingkungan sekitar, dari para guru, orang tua dan teman-teman dapat membantu mengasah potensi mereka.

No comments:

Post a Comment